Dusun Widoro menyimpan potensi anyaman yang dikerjakan secara tradisional dan bertahap. Hampir lebih dari 100 rumah terlibat dalam proses pembuatan capil, meski tidak bekerja dalam satu tempat yang sama. Setiap bagian, mulai dari capil alusan, gribik, hingga cekrek, dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan di rumah masing-masing, menggunakan bambu yang umumnya diambil dari kebun milik sendiri. Proses ini memberi gambaran nyata tentang kerja kolektif, keterampilan turun-temurun, dan kemandirian warga, menjadikan anyaman Widoro bukan sekadar produk, tetapi pengalaman budaya yang layak dikenali dan dipelajari.
Di dusun Dele desa Buluharjo paling tidak ada sekitar 12 pelaku usaha tempe keripik. Walau saat ini hanya berskala usaha rumah tangga semoga kedepannya usaha tersebut bisa terkoordinir dengan baik sehingga bisa menjadi salah satu kampung keripik di wilayah Plaosan maupun Magetan.
Di antara jalanan desa dan rumah-rumah warga Dusun Dele, tepat di dekat Balai Desa, hadir sanggar seni bernama “Oemah Tunggak Semi” sebagai ruang seni lokal yang menghidupkan ruang kreatif Buluharjo. Dari mulai berbagai macam jenis lukisan – konvensional di atas kanvas atau dalam botol – hingga recycling art, sanggar rumahannya menjadi tempat belajar yang terbuka, dipenuhi tawa anak-anak yang bebas menggambar serta melukis. Ruang ini mengingatkan bahwa seni selalu punya cara untuk tumbuh, bahkan jauh dari hiruk pikuk kota.