Website Resmi Desa Buluharjo - Kecamatan Plaosan
Jalan Raya Nitikan - Plaosan No. 007 Dusun Dele
📧 -   |   ☎️ 351888231   |   🏷️ Kode Pos: 63361

MENGABDI SAMBIL MENJELAJAH LEWAT CERITA TEMAN-TEMAN KKN-PPM UGM MENYUSURI HIDDEN-GEMS DI BULUHARJO!

30 Januari 2026 Anonim 64 kali dibaca
0
MENGABDI SAMBIL MENJELAJAH LEWAT CERITA TEMAN-TEMAN KKN-PPM UGM MENYUSURI HIDDEN-GEMS DI BULUHARJO!
Klik gambar untuk memperbesar

Saat pertama kali mendengar Magetan, selain rica-rica bekicot yang viral di Tiktok, Sarangan pasti jadi hal kedua yang masuk di kepala. Enggak beda jauh juga, nih, sama teman-teman KKN PPM UGM Swastamita Mageti yang sedang menjalani KKN selama 50 hari. Terbagi di dua desa utama, Buluharjo dan Bulugunung di Kecamatan Plaosan, tinggal dan mengabdinya kami di sini jadi salah satu ajang untuk lebih tahu seluk beluk desa, khususnya di Buluharjo Jaya ini. Selain senyum, salam, dan sapa bersama masyarakat sekitar, bukan mahasiswa namanya kalau enggak melalang buana dan cari-cari spot tersembunyi, alias hidden gem! Nah, kalau begitu, kira-kira tempat-tempat seperti apa, sih, yang kami temuin? 

Di antara jalanan desa dan rumah-rumah warga dusun Dele, tepatnya di dekat Balai Desa, kami bertemu dengan seorang pelaku seni lokal, Mas Kamto. Dari teater hingga kesenian ramah lingkungan seperti recycling art, tempat ini jadi ruang belajar yang hidup. Lukisan berjejer, dan anak-anak bebas menggambar, mewarnai, serta melukis di sanggar kecil penuh warna. Adanya Mas Kamto ini cukup mengingatkan kami akan segala hiruk pikuk kesenian yang ada di Jogja Rasanya kehausan akan seni, bahkan setelah ke Magetan pun, tetap terpenuhi. 

Masih di dusun yang sama, salah satu yang wajib dicoba adalah Keripik Tempe Dele, UMKM rumahan yang dibuat dengan cara sederhana tapi rasanya khas. Cocok buat camilan di jalan atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Pengen sesuatu yang lebih mengganjal perut? Langsung aja mampir ke Nasi Gadon Pak Kayat. Tempatnya memang sederhana, tapi soal rasa dan harga, enggak bisa dilawan – bawa lima ribu rupiah aja dijamin kenyang. Ditambah lagi, suasananya tenang dan penuh akan pemandangan desa. Di sini, makan bukan cuma soal kenyang, tapi juga ikut ngerasain kebiasaan warga sehari-hari. Ini juga jadi spot favorit kami setelah mengerjakan program kerja alias proker-an, dimanjain sama view, ada wi-fi, perut kenyang, dan bisa ngopi juga.. Apa, sih, yang kurang?

Habis makan, memang paling enak lanjut jalan santai. Enggak jauh dari Pak Kayat, hanya beberapa langkah aja, kita bisa melakukan susur sawah hortikultura yang pas banget dilakuin buat ngelepas penat. Hamparan hijau, aktivitas warga, dan suasana yang tenang bikin betah. Mau jalan kaki bisa, mau lewat motor juga aman karena jalannya sudah dicor. Cocok buat jalan sore tanpa buru-buru. Biar makin lengkap, perjalanan ini bisa ditutup dengan makan di Rujak Nyampleng yang segar, one of the icons!

Setelah mata termanjakan dan perut penuh, perjalanan di Buluharjo juga jadi momen belajar bareng. Di TPS3R “Uwuh Nowoseno”, kami melihat langsung pengelolaan sampah yang sudah tertata dan minim polusi. Salah satu titik pentingnya adalah insinerator hasil kontribusi KKN PPM UGM Swastamita Mageti yang berkolaborasi dengan KKN-K UTM Buluharjo, yang jadi langkah nyata pengelolaan sampah dari desa, oleh desa, untuk desa sendiri. Bukan cuma fasilitas, tapi juga ruang edukasi lingkungan yang bisa dilihat dan dipelajari langsung. 

Masih sama-sama bertema edukasi, berjalan sedikit ke Dusun Widoro, kami menemukan tempat anyaman yang masih dibuat dengan cara yang sangat tradisional dan bertahap. Menariknya, proses pembuatan anyaman tidak dilakukan di satu tempat saja. Setiap bagian dikerjakan oleh warga yang berbeda, di rumah mereka masing-masing. Tidak banyak yang tahu capil yang kita sering lihat itu terdiri dari banyak bagian, capil alusan (berada di bagian paling luar), gribik (bulatan di bagian dalam, lingkaran yang digunakan untuk mengepaskan kepala), dan cekrek (bagian paling luar caping). Nah, masing-masing dari bagian tersebut dibuat oleh pengrajin yang berbeda-beda yang tentu saja di rumah yang berbeda pula, sebelum akhirnya nanti dikumpulkan di pengepul dan dijadikan satu menjadi satu capil yang utuh. Dengan begitu, kami bisa melihat langsung setiap tahap pembuatan, dari awal hingga jadi. Pengalaman ini memberi gambaran nyata bahwa anyaman bukan sekadar produk, tapi hasil kerja bersama, keterampilan turun-temurun, dan kesabaran yang dijaga dari rumah ke rumah.

Setelah berkeliling, saatnya rehat sejenak. Di Dusun Seweru, minum jamu jadi ruang jeda yang sederhana tapi menenangkan. Tradisi ini bukan cuma soal rasa, tapi juga kearifan lokal yang masih dijaga. Perjalanan kemudian ditutup di Masjid Al Ikhlas—dengan parkiran luas, pemandangan sekitar yang lapang, dan suasana tenang. Selain menjadi ikon yang cukup menarik perhatian di Buluharjo karena bangunannya yang cukup megah, masjid ini juga dilengkapi dengan taman dan greenhouse yang tentu saja ditemani dengan pemandangan alam khas yang mengelilinginya. Tempat yang pas untuk diam sejenak, bernapas, dan pulang dengan kepala serta hati yang lebih ringan.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan kami selama 50 hari di Buluharjo membuka mata bahwa desa ini punya begitu banyak potensi, dari mulai dari budaya yang masih hidup, UMKM dengan rasa lokal, alam yang menenangkan, ruang belajar lingkungan, sampai tempat rehat yang sederhana tapi bermakna. Semua yang kami ceritakan di sini bukan sekadar cerita jalan-jalan, tapi juga bagian dari program kerja KKN PPM UGM Swastamita Mageti untuk memetakan dan mengenalkan potensi desa. Lewat peta potensi wisata yang kini bisa dilihat di Balai Desa Buluharjo—dan nantinya dilengkapi dengan booklet rancangan wisata—kami berharap potensi ini bisa lebih mudah dikenali, dirawat, dan dikembangkan bersama oleh warga, untuk desa itu sendiri.